Blogroll

My Instagram

Sabtu, 13 Januari 2018

Unknown

Menjaga Jodoh Orang Lain


Kenapa tulisan Ala melulu soal jodoh atau cinta? 

***
Sebab perjalanan hidup yang datang dan pergi meninggalkan sebuah kenangan yang patut dirangkai dalam sebuah tulisan. Dan cerita di sekitar Ala penuh dengan lika-liku percintaan yang rumit dan kompleks baik pribadi, teman dan keluarga.

***
Kalau kamu pernah menjadi penjaga jodoh orang lain, saya ucapkan Selamat! Sebab kamu bukan satu-satunya orang yang mengemban tugas itu di dunia ini. Patah hati, putus cinta, perceraian menjadi paripurna dari tugas tersebut.

***
Panggil saja Naina (nama samaran). Gadis mungil, lucu, baik nan rupawan. Komposisi yang sempurna bagi Rio untuk menjadikannya kekasih. Bertahun-tahun sudah dua sejoli ini menjalin kasih. Masih teringat, dulu Naina begitu mengagumi Rio di belakang layar dan berharap Rio putus dengan pacarnya kala itu. Keinginannya terkabul, Naina gembira, dan ia yakin Rio jodohnya kelak.
Hingga konflik itu datang. Perbedaan prinsip keluarga menghantui asmara mereka.

“Dik, aku akan melamarnya malam ini”

Pernikahan sepihak terjadi. Sakit hati meruah pada keduanya. Naina sadar ia bagian dari penjaga jodoh orang lain.

And its real!! Ini kisah nyata, bukan dongeng belaka.

*** 

Cerita di atas pada akhirnya membawa kita pada satu gambaran bahwa

jodoh adalah metafisik”

Jodoh itu gaib dan gak bisa sepenuhnya dipilih oleh manusia. Makanya hubungan yang namanya “pacaran” itu ibarat kamu menyewa rumah yang pada akhirnya rumah itu dikembalikan kepada pemilik aslinya. Bukan hak milik.

Mencintai adalah pilihan, namun jodoh tak demikian. Presiden Negeri Jancuker bahkan pernah berkata “Kau bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta, namun kau tak bisa memilih dengan siapa kau berjodoh”

Seyakin-yakinnya kamu tentang jodohmu siapa, tak akan mampu mengalahkan rencana dari Sang Maha Penentu Jodoh, yaitu Tuhan. Anggap saja seperti ini, Tuhan menunjukkan dia bukan jodohmu tidak semata-mata meruntuhkan usahamu untuk mendapatkannya, melainkan memberikan kesempatan dan perjuangan untuk mendapatkan yang lebih baik.

Cause you have to need a better for ur life!
Keep smile J

This paper is dedicate for my lovely friend in there. Wish u luck, where ever you are.
Ciputat, 13 Januari 2018
























Read More

Sabtu, 18 November 2017

Unknown

Oleh-Oleh Jodoh

“Jangan lupa oleh-oleh!!”

Kata-kata yang tak asing kita dengar dari kerabat, keluarga dan relasi kala kita sedang berada di luar daerah yang berbeda. Oleh-oleh itu seperti sebuah harapan, namun tak besar. Jika dapat, senang sekali. Jika tak dapat, ya sudah. Lalu, kaitannya dengan jodoh? Kalau dapat, senang sekali. Kalau tak dapat, ya sudah. Bukan! Gak begitu juga, hehe. Sebab semua orang ingin punya jodoh (red: pasangan dunia akhirat).

Begini, cara mendapatkan jodoh itu gampang. Pertama, tahu dimana tempat jodoh. Dan kedua, tahu caranya mendapatkan jodoh. Saya berusaha menganalogikan perkataan Kyai Manshur (Ketua Ta’mir Masjid PBNU) perihal cara mendapatkan uang itu bagaimana. Pertama, tahu tempat uang. Kedua, tahu bagaimana cara mendapatkan uang. Jawabannya simpel, tempat uang adalah Allah dan cara mendapatkan uang adalah melalui berdagang ( salah satu cara dari hadis Nabi saw.)

Jadi, tempat jodoh itu ya Allah. Cara mendapatkan jodoh itu melalui ayat-ayat Allah. Jika Allah mengenal baik kita melalui ibadah, amal sholeh dan kerja keras yang kita lakukan, Allah pasti ingat kepada kita  sembari memberikan oleh-oleh. Tak hanya berhenti di jodoh. Ingin umur panjang dan kesehatan? Allah kasih. Ingin mempunyai anak sholeh sholehah? Allah kasih. Ingin dilancarkan urusan pekerjaan? Allah kasih. Masalahnya adalah, kita yakin atau tidak dengan janji-janji yang Allah katakan.
Al-Qur’an menyebutkan dalam surat an-Nur ayat 26 kurang lebih intisarinya seperti ini

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula”

Baik menurut siapa?? Tentu baik menurut Allah. Indikator ayat ini ada dua. Pertama, mencari pasangan “baik” bukan dari tolak ukur dia baik menurut manusia tok! Tapi juga baik menurut Allah. Kedua, terus memperbaiki diri supaya baik di hadapan Allah untuk mendapatkan jodoh yang baik pula di hadapan-Nya. Melalui apa? Melalui sholat wajib dan sunnah, puasa, mengaji, shodaqoh dsb. Yakin aja dulu. Biasanya kita tak tahu dia baik menurut Allah atau tidak. Tapi yakin, Allah pasti tunjukkan melalui rangkaian istikhoroh yang kita lakukan.

Jadi, teruslah memperbaiki diri. Sebab, manusia selamanya akan menjadi hamba yang salah. Pasangan adalah cerminan diri. Perbaiki diri sejak kini, raih pasangan dan keturunan yang baik di kemudian hari.

Siapa tahu, habis baca tulisan ini tiba-tiba Allah nyamperin lewat mimpi terus bilang
 “Nih, Oleh-oleh Jodoh..!!” hehehe


Bandar Lampung, 18 November 2017
Read More

Selasa, 26 September 2017

Unknown

Tuhan, Boleh Aku Bertanya?



Tuhan, perkenalkan aku Ala, terimakasih atas ruh dari-Mu kini aku masih hidup sehingga bisa merasakan nikmatnya rasa sakit karena diduakan untuk kali pertama. Jangan! Tak usah iba. Ini bagian dari jalan Tuhan, bukan?

Boleh aku bertanya?
Kenapa kau ciptakan perselingkuhan di dunia ini?
Hmm, Oke Kau tak perlu jawab sekarang. Yang aku tahu, cinta itu datang dari-Mu. Yang aku pahami, sayang itu juga datang dari-Mu. Aku bisa mencinta-Mu dari senyumannya. Aku bisa merasakan-Mu dari wibawanya. Aku bisa merindumu dari tatapan matanya. Itu berarti, aku pantas mendapatkan hal yang sama bukan? Dicintai, disayangi. Seperti cinta yang kau turunkan kepada dua insan. Hanya dua. Sekali lagi, hanya dua.
Tapi kenapa Kau ciptakan ketiga??
***

Tuhan, boleh aku bertanya?
Apakah aku pantas bahagia?
Asal Kau tahu, aku tidak akan pernah mengkhianati-Mu. Sampai kapan pun itu hingga maut menjemput. Sama seperti setiaku kepada ciptaan-Mu yang kucinta. Karena itu yang membuatku bahagia. Itu berarti aku pantas mendapatkan hal yang sama bukan? Mendapat kesetiaan.
Tapi kenapa Kau beriku pengkhianatan?
***

Tuhan , bolehkah aku bertanya?
Apakah aku salah mencintainya dengan jarak?
Jarak. Aku bisa merasakan cinta dari jarak yang begitu jauh. Sama seperti cintaku pada-Mu sebagai Zat yang tak kan pernah bisa kugapai.
Jarak. Aku bisa ciptakan kepercayaan dari jarak puluhan kilometer. Aku bisa melepas ciptaan-Mu yang kucinta untuk bergerak sesuka hati. Tapi bukan bergerak kepada  si hati. Hati yang lain. Hati yang bisa membuat cumbu bersamanya. Hati yang dapat ciptakan kasmaran kedua kali dengannya.
Bagaimana dengan hati yg di sini? Hati dari jarak puluhan kilometer ini.
Lalu Tuhan, aku bisa apa? Aku hanya si hati terdahulu. Yang lama bahkan usang. Tak menarik lagi. Kekuatanku hanya kepercayaan. Percaya pada hati yang salah. Hati yang tak beriku kesetiaan. Hati yang beriku pengkhianatan.


Benar kata orang, hati-hati dengan hati. Bisa jadi main hati.
Selamat berninabobo, hati. Semoga bahagia.

Ciputat, 26 September 2017






  

Read More

Rabu, 06 September 2017

Unknown

Antara Perempuan Marah dan Puzzle Kocar Kacir


Sumber: Google

Pernah nonton film 3 Dara?? Itu tuh, film yang diperankan oleh Tora Sudiro, Adipati Dolken dan Tanta Ginting. Film tersebut mengisahkan tiga pemuda dewasa yang terjebak dalam situasi perubahan jati diri mereka layaknya seperti perempuan. Kok bisa?? Itu karena mereka dapat kutukan dari waiterwoman (Pelayan Perempuan), soalnya mereka hanya menilai perempuan dari sisi sensualitasnya saja.

Yah, film itu sih baru sebagian kecilnya saja menggambarkan kondisi psikologis yang terjadi pada perempuan. Di luar itu, masih banyak permasalahan jelimet yang cuma bisa dirasakan oleh perempuan. Apalagi masalah hati. Noted!

Hmm, ngomongin soal hati. Bagi saya, makhluk yang paling pintar menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya, itu perempuan. Mereka bisa terlihat baik-baik saja di depan banyak orang, namun menyembunyikan keadaan hati yang sedang rapuh. Dramatis!
***

Baik, di atas hanya pengantar singkat. Trus, gimana ngadepin perempuan yang marah?
Dalam soal percintaan. Memahami perempuan yang marah itu bagaikan menghadapi susunan puzzle yang kocar-kacir. Untuk menghasilkan gambar yang sempurna dari susunan puzzle, perlu dicari dan dipahami  mana saja potongan puzzle yang pas dan benar hingga benar-benar serasi saat ditempelkan. Jangan sampai salah bertindak. Ribet ya? But,Its Fact.

Ya sama kayak puzzle, perempuan marah juga butuh ancang-ancang atau taktik yang teliti buat dihadepin. Kuncinya satu, yaitu sabar dan pantang menyerah. Bukan ditinggalin gitu aja, apalagi ditinggal setengah jalan dalam kondisi masih kocar kacir. Duh.

Kalau kamu sering kebingungan ngadepinnya, berarti taktik kamu harus pas dan benar. Oke oke. Sampe sini kayaknya sudah lelah bacanya karena rasanya kok ribet banget dah.
Tenang..tenang.

Menghadapi perempuan marah harus dalam kondisi mengalah, bukan kalah. Cukup dengan memenangkan hatinya. Mengalahkan ego dan berusaha memahami kondisinya.  Pikirkan apa yang mereka inginkan tanpa menanyakan langsung “trus kamu maunya aku gimana?”, itu pertanda kalian kurang dalam kepekaan dan malah makin bikin illfeel.

Kalau sedang marah, perempuan hanya mau diberi perhatian saja, bukan memarahinya balik. Jika sudah memberi perhatian lebih tapi mereka malah makin ngomel, kalian perlu waktu untuk bersabar dan mempersilahkan mereka mengeluarkan uneg-uneg yang dipendam. Karena omelan perempuan hanya bagian dari misi untuk mendapatkan perhatian dari lawan, mereka gak makin marah kok. Perlu kerja ekstra sih, tapi  pada akhirnya, kebanyakan perempuan akan luluh juga hatinya. Taktik pendukung lainnya, bisa pake cara ini.

Kamu suka ngegombal? Silahkan berikan gombalan ringan #asal gak garing
Kamu suka ngelucu? Silahkan beri lawakan yang sederhana.
Atau kamu suka hal romantis? Silahkan berikan sesuatu untuk menarik perhatiannya, dan lain sebagainya.
***

sumber: bellybuttonts


Ehem! Sampe sini sudah siap  ngadepin susunan puzzle yang kocar kacir,kan?? hehehe.
Kalau ada kisah perempuan  tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, itu hal yang pas untuk dijadikan sebuah analogi. Maaf jika salah, seperti yang dikatakan M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah, tulang rusuk yang bengkok adalah simbol bagi perempuan yang hatinya mudah rapuh dengan segala kondisi psikologis yang berbeda dari laki-laki, maka untuk meluruskannya harus dilakukan secara pelan-pelan, jika dengan paksaan, patahlah sudah itu tulang.

sumber: @kartunmuslim
Pun dalam hal berumah tangga. Istri yang merajuk adalah masalah yang harus diselesaikan dgn kepala dingin. Para suami harus pintar mencari taktik untuk meredam kemarahan mereka. Jangan sampai terjadi cekcok berkepanjangan yang hanya disebabkan pertarungan ego masing-masing.

Pada akhirnya, lagu Ada Band itu bukan hoax loh!!
“Karena wanita ingin dimengerti. Lewat tutur lembut dan laku agung. Karena wanita ingin dimengerti. Manjakan dia... dengan kasih sayang”.


Lampung Selatan, 5 September 2017


Read More

Senin, 04 September 2017

Unknown

Allah Ingin Membunuh Nabi Ismail??


 
Ilustrasi
Sumber Google

Agar tak salah paham, jadilah pembaca bijak. Bacanya sampai akhir, jangan setengah-setengah.
*** 

Masih dalam hitungan hari kita baru saja berpisah dengan hari raya Idul Adha atau lebaran haji 1438 H/2017 M. Jauh di luar sana, ada saudara-saudara kita sedang melaksanakan rukun Islam kelima yaitu ibadah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia. Idul Adha menjadi salah satu momentum khidmat bagi umat Islam untuk kembali suci dari segala kesombongan dunia dan berderma dengan sesama. Salah satunya adalah dengan berkurban.

Pasti sudah pada tahu tentang sejarah qurban kan?

Kali pertama saya mendengar kisah qurban adalah dari guru mengaji di rumah, abah saya sendiri. Sejarah qurban bermula dari peristiwa penyembelihan Nabi Ismail As. oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim As. Hingga pada detik-detik penyembelihan, Allah mengganti tubuh Nabi Ismail As. dengan seekor domba.
Begitulah cerita masyhur yang kita dengar pada umumnya.

Apakah Allah hendak membunuh?
Ya.
Apakah Allah ingin membunuh Nabi Ismail As.?
Tidak.
Lalu apa yang hendak Allah bunuh?
Allah ingin membunuh rasa kecintaan berlebih Nabi Ibrahim As. kepada Nabi Ismail As.

*** 

Nabi Ibrahim begitu mengidamkan seorang anak. Sampai menua, Ia dan Siti Sarah menanti kehadiran seorang anak namun tak kunjung datang. Hingga akhirnya melalui Siti Hajar, Nabi Ibrahim As. dikaruniai seorang anak laki-laki yaitu Ismail.

Alamak! Alangkah senang dan bahagianya Nabi Ibrahim kala itu. Yang ia idam-idamkan kini menjadi kenyataan. Lantas seluruh cinta kasih sayang dan kebahagiaan akan selalu ia berikan pada anaknya. Bak dapat durian runtuh, maka keberuntungan itu akan selalu ia rawat dan jaga.

Namun Nabi Ibrahim As. akhirnya diuji oleh Allah melalui mimpi untuk menyembelih anak kesayangannya itu. Bak dentuman petir, Nabi Ibrahim merasakan dilematis yang luar biasa. Mana mungkin kebahagiaan itu aku musnahkan? Mimpi itu smpai ke telinga Nabi Ismail. Namun Ismail tak berontak. Dengan yakinnya ia sampaikan “Jika itu perintah Allah, maka laksanakan, Ayah”.
Akhirnya, Nabi Ibrahim mampu melewati ujian tersebut dengan membunuh rasa kecintaan berlebih pada anak kesayangannya.

***


Sumber Google

Terkadang, Allah memberikan cobaan hanya untuk membunuh rasa cinta kita yang berlebih kepada sesuatu yang memalingkan kita dari Allah. Ada harta, pangkat, ilmu dunia, kekasih, anak, keluarga, teman dan sebagainya. Larut mencari kekayaan dunia, tapi lupa berkorban untuk Allah. Come on! Mereka semua tak akan dibawa mati, hanya amal yang menjadi teman hidup hingga akhirat kelak.

Saya juga menulis sambil sadar diri kok.
Pantas saja kita perlu merenung, mengapa kegelisahan cenderung hadir dalam kehidupan kita, mungkin ada yang perlu kita korbankan untuk Allah. Jika sibuk, maka korbankan waktu untuk beribadah. Jika kaya, maka korbankan harta untuk bersedekah. Jika sering marah-marah maka korbankan senyum manis dengan sesama. Jika sering mengomel maka korbankan waktu untuk bertilawah. Sungguh, kesedihan bahkan kebahagiaan, itu semua ujian dari Allah. 
Semoga kita bisa membunuh segala kecintaan  tersebut. Aamiin.

Lampung Selatan, 4 September 2017.



Read More

Rabu, 30 Agustus 2017

Unknown

Poligami-Jusuf Kalla-Athirah

Jusuf Kalla dan Istri, Ibu Mufidah Kalla


Asal kamu tahu, ini bukan cerita tentang sang bapak wakil presiden Jusuf Kalla yang sedang beristeri dua atau poligami. Lebih dari itu. Ini tentang ibundanya. Ya, Athirah. Dan tentang sejarah  kehidupan orang nomor dua di Indonesia saat ini yang tidak jauh dari payung poligami.
***

Behind the story kenapa saya ingin bercerita poligami lewat tulisan ini bermula ketika saya naik CommuterLine (kereta api listrik) menuju Tanah Abang. Saya berdiri dengan  bertumpu pegangan besi kereta sambil menengok layar handphone dan membaca status facebook salah satu penulis  ternama Indonesia  (Fahd Pahdepie) tentang poligami. Then, my idea came up.

Selain itu, gaungan poligami akhir-akhir ini makin mencuat setelah salah satu isteri (sebentar lagi jadi mantan istri ) dari penyanyi religi terkenal Indonesia menyampaikan curahan hati lewat media sosial tentang status dimadunya.
***

Judulnya Athirah. Novel karya Albertheiene Endah. Salah satu novel yang menggugah hati saya.

Tiga tahun lalu saya membaca novel ini, sehingga yang saya paparkan adalah sedikit cerita yang masih bisa saya ingat.

Adalah Athirah, ibunda tercinta Jusuf Kalla. Athirah dimadu, dipoligami,diduakan, dibagi cintanya. Athirah bukan satu-satunya perempuan yang dicintai suaminya, tapi ada perempuan lain. Ia pun menerima suaminya kawin lagi. Lantas keadaan baik-baik saja??

Athirah hanyalah Athirah. Dalam status dimadu, Ia masih memasakkan makanan untuk anak-anak,memberikan senyuman manis, merapikan isi rumah, membuat asap mengepul di dapur, seperti keadaan yang wajar-wajar saja.

Tapi tiap malam ia menangis, bahkan menahan tangis agar isakannya tak terdengar oleh anak-anak. Ia meratapi nasib. Ia lelah terus bertopeng tegar di depan semua orang. Kenapa harus Athirah yang mengalami ini. Athirah kadang bercerita dengan Jusuf, karena di usianya yang belasan tahun Jusuf sudah mengerti.

Bagi Jusuf Kalla sendiri, ia sering mendengar tentang poligami. Tapi tak pernah ia bayangkan bahwa poligami masuk dalam kehidupan keluarganya. Sejak ayahnya berpoligami, ada ruh yang hilang dari rumah. Emak sering melamun dekat jendela dan suara hentakan kaki ayah kian memudar.

Ia yakin, poligami menjadi penyebab kesedihan yang berkecamuk dalam diri emaknya, Athirah. Poligami yang membuat senyum emak meredup. Athirah merasa kalah. Tapi Jusuf hanya menjawab “Emak mengalah, bukan kalah”. Kehidupan pilu itu pun terus berlanjut.

Jusuf dan adik-adik harus menunggu waktu yang begitu lama sampai akhirnya Athirah mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Sudah takdir Allah, apa mau dikata. Tak baik jika terus-terusan meratapi. Jika terus bersedih, bagaimana nasib anak-anaknya kelak. Anak-anak adalah harapan Athirah.

Athirah akhirnya bangkit, menjalankan bisnis yang sukses di tanah Makassar. Bahkan kini anaknya sudah menjadi orang ternama di negeri sendiri. Di balik kesuksesan Jusuf Kalla, ada Athirah, sosok yang memberikan warna indah pada hidupnya.
Seingat saya, ini pesan yang Athirah sampaikan pada Jusuf Kalla. “jangan sampai kau berpoligami, cukup emak yang dipoligami dan nenekmu yang menjadi isteri madu”.


*** 
Itulah cerita yang masih saya ingat.

Saya juga membacanya sambil nyesek kok he. Tuaian kata-kata Albertheine Endah sungguh menggugah hati hingga mampu mengajak emosional pembaca melebur dengan cerita.
Jika boleh berpendapat. Dalam cerita ini, tak ada singgungan hukum agama yang disuguhkan. Pure, ini kisah pilu perempuan yang dimadu. Ini soal perasaan. Perasaan sendu perempuan yang dipoligami. Terlepas dari masalah hukum berpoligami itu apa.
*** 

Tapi ada yang bilang gini, “poligami itu mubah dalam Islam. Jadi jangan dikaitkan antara hukum Islam dan baper.”

Halo???
Yang saya tahu, Allah Maha Kasih. Alaa bidzikrillah tatma’innul qulub. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Itu tandanya, Allah akan selalu bersama orang-orang yang hatinya gundah, sedih dan merana. Kurang baik apa loh. Bahkan orang yang berdoa dengan khusyu akan membawa perasaannya dalam untaian doa hingga ia mampu mengeluarkan air mata.

Ya sudahlah. Keburu saya terlalu emosi memaparkannya lebih lanjut hehe Pembahasan poligami memang begitu sensitif.

Intinya kita bisa menyimpulkan sendiri tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan yang dipoligami dari cerita di atas atau cerita mantan isteri penyanyi religi atau kisah-kisah perempuan yang kini sedang berjuang dalam biduk rumah tangganya dalam naungan poligami.

Ciputat, 30 Agustus 2017








Read More

Rabu, 23 Agustus 2017

Unknown

Negeri Bertopeng

Sumber: Nyai Google

Izin meminjam perkataan Sujiwo Tejo dalam buku asyiknya yaitu Tuhan Maha Asyik, bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, manusia adalah lakon dan Tuhan adalah dalangnya. Ini hanya sebuah analogi, bukan berarti menyama-nyamakan Tuhan yang Maha segalanya dengan seorang dalang yang banyak dosa karena ia hanya manusia. Karena dalam setiap gerak manusia, pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Seperti campur tangan seorang dalang dalam berdongeng dengan wayang-wayangnya.

***
Hanya ada dua jenis kelamin bagi manusia, ya laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki yang menyerupai perempuan? Itu udah beda urusan.
Secara kodrati , baik laki-laki dan perempuan mempunyai spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, seperti alat reproduksi dan sebagainya. Kalau mengubah sesuatu yang sudah ditetapkan Tuhan? Itu udah beda urusan.
Jadi, baik perempuan dan laki-laki, mereka menjalani lakon di dunia ini.
***
Lalu, adakah kepura-puraan yang mereka tampilkan??
Namanya juga lakon yang tugasnya melakoni, ya pasti ada pura-puranya. Seperti dalam sebuah film, segala properti yang digunakan biasanya menunjukkan karakteristik seorang aktor. Tapi ingat, aktor hanya pemain. Siapa yg tahu sifat dia sebenarnya kalau bukan dia sendiri dan Tuhan. Sama seperti kita.

Siapa yang tahu sifat sejati kita kalau bukan diri kita sendiri dan Tuhan. Banyak properti yang kita gunakan untuk menutupi jati diri kita sendiri. Sehingga jangan heran, seseorang dengan label pakaian atau jabatan yang menurut kita tinggi dan baik, bisa juga melakukan kesalahan yang begitu fatal. Sebaliknya, mereka yang memiliki label pakaian dan jabatan level rendah, bisa melakukan perbuatan terpuji dan bermanfaat.

***
Kalau boleh diibaratkan, dunia ini seperti negeri bertopeng. Manusia berlomba-lomba memiliki topeng yang paling indah, bagus dan mahal. Macam-macam warnanya. Merah, biru, kuning, hitam bahkan kuning emas. Semakin indah dan bagus topengnya, maka semakin eksis keberadaannya. Tapi itu hanya topeng.
Dari sekian juta penduduk bertopeng, tidak sampai 50% dari mereka yang memakai topeng sesuai dengan kepribadiannya. Lebih banyak penduduk yang menutupi jati diri aslinya dengan bertopeng. Mereka melepas topeng saat berhadapan dengan Tuhan. Tapi kebanyakan dari mereka jarang menghadap Tuhan. Jarang bermuhasabah diri karena terlena dengan sebuah topeng.
Sumber: Nyai Google

Masing-masing topeng punya kelas-kelasnya tersendiri.
Di kalangan artis, topeng berwarna merah peringkat paling atas.
Di kalangan pejabat, topeng berwarna hijau posisi pertama.
Di kalangan pembisnis, topeng warna biru paling glamor.
Di kalangan ustadz-ustadz, topeng berwarna kuning emas paling dielukan. 
Sehingga, banyak penduduk yang ingin hijrah dengan langsung mengaplikasikan topeng berwarna kuning emas. Pun pakaiannya seperti topeng kuning emas. Mirip.

Tapi jangan sedih, masih ada penduduk bertopeng tanpa warna, warnanya susah dijelaskan. Karena warnanya terpancar dari kepribadiannya sendiri. Mereka tak bersembunyi dengan topeng. Mereka hidup dengan nyaman dan tidak saling menjatuhkan. Mereka tak memperebutkan berbagai topeng berwarna, karena pancaran jati diri mereka yang sebenarnya sudah cukup menjadi warna topeng dalam berpakaian, berbicara dan bertingkah laku.
Bahkan Bang Ariel NOAH pun pernah berkata ....
“tapi buka dulu to.....pengmu, buka dulu toe..pengmu”
“biar kulihat warnamu, kan kulihat warnamu”

Kesimpulannya dipikirkan sendiri ya hehehe


Ciputat, 23 Agustus 2017
Read More

Minggu, 20 Agustus 2017

Unknown

Kenapa Perempuan Ingin Cepat-Cepat Menikah


Sumber: tjahgarpetan.blogspot.com

Kamu laki-laki??? Pasti penasaran dengan tulisan ini ,soalnya bingung ngadepin si doi yang selalu ngasih kode untuk segera dipinang, hee.

Atau kamu perempuan?? Kamu bisa setuju ataupun tidak setuju dengan beberapa statement dalam tulisan ini. Selama baca tulisan ini syaratnya cuma satu, sewaktu membaca gak usah pake senyum-senyum kesem-sem :D walau di dalam hati bilang ‘ihhhhh gue bangett siih’, yang penting berdoa dengan penuh penghayatan “Ya Allah, semoga gue dapat jodoh yg terbaik dari-Mu”.

Nahh oke! Peringatan: Tulisan ini lebih diperuntukkan untuk umur 18 tahun ke atas, di bawah itu berarti kamu dewasa sebelum waktunya. Tobat, Dek..tobat :D

***
Menikah. Umumnya yang kita ketahui tentang menikah adalah ikatan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan aturan dan ajaran agama. Menurut BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), usia ideal untuk menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Karena katanya, pada usia itu mereka sudah matang dan mampu berpikir secara dewasa. Katanya lho ya.. Berarti di atas usia itu udah ‘kematangan’ dan ‘kedewasaan’, hee Kayak saya.

Oke. Judul besarnya adalah kenapa perempuan ingin cepat-cepat menikah? Mungkin gak semua perempuan atau bahkan hal ini yang dirasakan juga oleh laki-laki, tapi yang saya ketahui adalah yang paling ingin cepat menikah itu sebagian besar dari si perempuan. Berdasarkan survey teman-teman perempuan terdekat dan diri saya sendiri, *Loh??!

Kenapa bisa demikian? Nah, ini deretan jawabannya yang mungkin saja bisa mewakili beberapa alasan yang perempuan rasakan.

1.   Beban Lebih Ringan

“Ya udah kita nikah aja, toh nafkah bisa kita cari bareng-bareng kan..” atau gini, “Kamu kan udah kerja, mau ngapain lagi sih selain menikah”,  dan lain-lain.
Konstruk masyarakat sudah memberikan pemahaman bagi kita bahwa laki-laki sebagai suami wajib menafkahi istri dan keluarga. Pemahaman ini bahkan bersumber dari ajaran agama yang dianut. Perempuan yang ingin segera dinikahi biasanya tidak begitu memikirkan bagaimana cara menafkahi keluarga. Dalam arti, yg paling wajib kan si suami. Makanya perempuan  terkadang lebih mudah menuntut lebih kepada pasangan untuk dinikahi.

 2.   Zamannya Mudah Baper

Ini alasan paling best seller akhir-akhir ini. Semakin tinggi tingkat pengguna media sosial seperti facebook, twitter, path, dan  instagram, maka semakin banyak pula status-status atau tayangan-tayangan berbau baper dihadirkan kepada perempuan. Selain itu, deretan undangan pernikahan dari teman sejawat pun ikut meneriakkan kebaperan mereka. Di media sosial contohnya, zaman generasi milenial kini lebih banyak disuguhkan tayangan-tayangan resepsi pernikahan yang pake instrumen sholawat atau video pre wedding para artis atau film pendek tentang ta’aruf atau foto sepasang cincin kawin, gambar kartun laki-laki berjas ditarik-tarik perempuan ke KUA, bahkan ceramah beberapa dai tentang pernikahan. 

Contoh lain adalah saat mendapatkan undangan pernikahan dari teman. Kayak gini, 
“Tuti aja udah, terus gue kapan???” *nanya sama tembok sambil lihat ke atas :D , atau 
“Udah dapat undangan nikah aja nh, kapan gue ngundangnya ya” *ngarep 
“Ya Allah, Tuti nikah???!!”, *ngomongnya sambil megang dada bagian jantung, atau yg paling aneh “Ah elah, kok pada nikah sih!?” *tipikal nyalahin takdir  hahaha. 
Inilah  fase-fase yang begitu rawan baper bagi perempuan dengan usia 21 tahun ke atas. Sehingga mereka lebih senang meluncurkan kode-kode ingin dipinang sekalipun tak punya pasangan.

 3.   Menghindari Maksiat

Maksiat sudah tentu identik dengan pacaran. Pacaran lebih banyak memberikan pengaruh negatif daripada positif. Ya, you know lah sepasang kekasih yang memadu kasih mustahil jauh dari yang namanya zina. ‘Tapi kan zinanya Cuma kecil-kecil’ Eits, tetap aja namanya zina, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Tobat ya tobat, he. Kalian sudah ngapain aja hayo :D. Beberapa perempuan memilih alasan ini untuk segera menikah. Daripada pacaran yang selalu bawa efek buruk, mending disahkan dalam ikatan pernikahan. Terlebih, menikah juga salah satu cara Allah untuk menundukkan pandangan kepada lawan jenis.

4.   Sudah Waktunya

Sumber: google.com
Sudah waktunya menikah. Biasanya hal ini dirasakan perempuan yang mapan. Matang secara fisik dan pemikiran. Mereka sudah menyelesaikan pendidikan, mempunyai pekerjaan dan merasa siap lahir dan batin. Apa lagi yang ditunggu?? Yang ditunggu adalah sang pelamar hehe




5.   Usia

Pasti jarang dengar yg kayak gini
“Neng, target nikah umur berapa?”, dan dijawab “Ya mungkin umur 29 atau 30 an lah”. Itu kejadian langka selangka-langkanya yang pernah ditemukan hee. Karena biasanya target menikah bagi perempuan paling mentok di umur 25 atau 26. Jika sudah menginjak usia tersebut, timbul sedikit keresahan jika tak kunjung menemukan pasangan. Maka doa kepada Ilahi begitu kuat. Terkadang, di usia ini perempuan tidak banyak memilih pasangan yang harus begini begitu, kayak ini kayak itu. Memilih juga sih, tapi gak terlalu neko-neko. Ada yang ngelamar sudah sangat bersyukur he

 6.   Desakan Keluarga

Yo... mana suaranya yang sering diteror kapan nikah sama emaknya?????
Wkwkkwkw
Orang tua yang punya anak gadis usia 25 tahun ke atas biasanya banyak ikut andil dalam misi mencari pasangan bagi anaknya. Jika anaknya sudah memiliki calon, maka orang tua akan desak kapan si doi melamar. Jika anaknya belum memiliki calon sama sekali, maka ortu ikut sibuk mencari pasangan dari berbagai relasi. Anaknya si A, anaknya si B, anaknya dari saudara si Bapak A atau saudaranya dari keponakan Ibunya si B. Hadeh. Maju terus pantang mundur.

***
Itulah beberapa alasan kenapa perempuan ingin cepat-cepat menikah.  Saya sadari, dalam tulisan ini terdapat banyak sekali kurangnya, terutama kurang panjang ceritanya, karena perempuan biasanya kalau bercerita atau curhat terlalu kepanjangan he :D

Ada saran nih yang ingin disampaikan. Buat yang perempuan, nikmatilah kebaperan kalian (termasuk gue) saat ini. Tapi jangan terlalu banyak menuntut. Bisa jadi, ada beberapa alasan dan persiapan bagi pasangan kalian yang perlu direncanakan secara matang sebelum menikah.. Bagi yang pacarannya sudah kelewat batas, segeralah menikah, itu lebih baik. Bagi yang belum punya pasangan dan masih menunggu, bersabarlah.  Karena menikah itu sekali seumur hidup, maka jangan asal pilih dan harus benar-benar menemukan pasangan yang terbaik untuk menemani kehidupan kalian hingga akhir hayat kelak.

Okeh! Begitu saja. Sangat menerima kritik dan saran. 
Ingat, jangan lupa bahagia J

Ciputat, 20 Agustus 2017

Read More