Agar tak salah paham, jadilah pembaca bijak. Bacanya sampai akhir,
jangan setengah-setengah.
***
Masih dalam hitungan hari kita baru saja berpisah dengan hari raya
Idul Adha atau lebaran haji 1438 H/2017 M. Jauh di luar sana, ada
saudara-saudara kita sedang melaksanakan rukun Islam kelima yaitu ibadah haji
yang datang dari berbagai penjuru dunia. Idul Adha menjadi salah satu momentum
khidmat bagi umat Islam untuk kembali suci dari segala kesombongan dunia dan
berderma dengan sesama. Salah satunya adalah dengan berkurban.
Pasti sudah pada tahu tentang sejarah qurban kan?
Kali pertama saya mendengar kisah qurban adalah dari guru mengaji di
rumah, abah saya sendiri. Sejarah qurban bermula dari peristiwa penyembelihan
Nabi Ismail As. oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim As. Hingga pada detik-detik
penyembelihan, Allah mengganti tubuh Nabi Ismail As. dengan seekor domba.
Begitulah cerita masyhur yang kita dengar pada umumnya.
Apakah Allah hendak membunuh?
Ya.
Apakah Allah ingin membunuh Nabi Ismail As.?
Tidak.
Lalu apa yang hendak Allah bunuh?
Allah ingin membunuh rasa kecintaan berlebih Nabi Ibrahim As.
kepada Nabi Ismail As.
***
Nabi Ibrahim begitu mengidamkan seorang anak. Sampai menua, Ia dan
Siti Sarah menanti kehadiran seorang anak namun tak kunjung datang. Hingga
akhirnya melalui Siti Hajar, Nabi Ibrahim As. dikaruniai seorang anak laki-laki
yaitu Ismail.
Alamak! Alangkah senang dan bahagianya Nabi Ibrahim kala itu. Yang
ia idam-idamkan kini menjadi kenyataan. Lantas seluruh cinta kasih sayang dan
kebahagiaan akan selalu ia berikan pada anaknya. Bak dapat durian runtuh, maka
keberuntungan itu akan selalu ia rawat dan jaga.
Namun Nabi Ibrahim As. akhirnya diuji oleh Allah melalui mimpi
untuk menyembelih anak kesayangannya itu. Bak dentuman petir, Nabi Ibrahim
merasakan dilematis yang luar biasa. Mana mungkin kebahagiaan itu aku
musnahkan? Mimpi itu smpai ke telinga Nabi Ismail. Namun Ismail tak berontak.
Dengan yakinnya ia sampaikan “Jika itu perintah Allah, maka laksanakan, Ayah”.
Akhirnya, Nabi Ibrahim mampu melewati ujian tersebut dengan
membunuh rasa kecintaan berlebih pada anak kesayangannya.
***
![]() |
| Sumber Google |
Terkadang, Allah memberikan cobaan hanya untuk membunuh rasa cinta kita
yang berlebih kepada sesuatu yang memalingkan kita dari Allah. Ada harta,
pangkat, ilmu dunia, kekasih, anak, keluarga, teman dan sebagainya. Larut
mencari kekayaan dunia, tapi lupa berkorban untuk Allah. Come on! Mereka semua
tak akan dibawa mati, hanya amal yang menjadi teman hidup hingga akhirat kelak.
Saya juga menulis sambil sadar diri kok.
Pantas saja kita perlu merenung, mengapa kegelisahan cenderung hadir
dalam kehidupan kita, mungkin ada yang perlu kita korbankan untuk Allah. Jika
sibuk, maka korbankan waktu untuk beribadah. Jika kaya, maka korbankan harta
untuk bersedekah. Jika sering marah-marah maka korbankan senyum manis dengan
sesama. Jika sering mengomel maka korbankan waktu untuk bertilawah. Sungguh,
kesedihan bahkan kebahagiaan, itu semua ujian dari Allah.
Semoga kita bisa membunuh segala kecintaan tersebut. Aamiin.
Lampung Selatan, 4 September 2017.

