Blogroll

My Instagram

Rabu, 23 Agustus 2017

Unknown

Negeri Bertopeng

Sumber: Nyai Google

Izin meminjam perkataan Sujiwo Tejo dalam buku asyiknya yaitu Tuhan Maha Asyik, bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, manusia adalah lakon dan Tuhan adalah dalangnya. Ini hanya sebuah analogi, bukan berarti menyama-nyamakan Tuhan yang Maha segalanya dengan seorang dalang yang banyak dosa karena ia hanya manusia. Karena dalam setiap gerak manusia, pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Seperti campur tangan seorang dalang dalam berdongeng dengan wayang-wayangnya.

***
Hanya ada dua jenis kelamin bagi manusia, ya laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki yang menyerupai perempuan? Itu udah beda urusan.
Secara kodrati , baik laki-laki dan perempuan mempunyai spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, seperti alat reproduksi dan sebagainya. Kalau mengubah sesuatu yang sudah ditetapkan Tuhan? Itu udah beda urusan.
Jadi, baik perempuan dan laki-laki, mereka menjalani lakon di dunia ini.
***
Lalu, adakah kepura-puraan yang mereka tampilkan??
Namanya juga lakon yang tugasnya melakoni, ya pasti ada pura-puranya. Seperti dalam sebuah film, segala properti yang digunakan biasanya menunjukkan karakteristik seorang aktor. Tapi ingat, aktor hanya pemain. Siapa yg tahu sifat dia sebenarnya kalau bukan dia sendiri dan Tuhan. Sama seperti kita.

Siapa yang tahu sifat sejati kita kalau bukan diri kita sendiri dan Tuhan. Banyak properti yang kita gunakan untuk menutupi jati diri kita sendiri. Sehingga jangan heran, seseorang dengan label pakaian atau jabatan yang menurut kita tinggi dan baik, bisa juga melakukan kesalahan yang begitu fatal. Sebaliknya, mereka yang memiliki label pakaian dan jabatan level rendah, bisa melakukan perbuatan terpuji dan bermanfaat.

***
Kalau boleh diibaratkan, dunia ini seperti negeri bertopeng. Manusia berlomba-lomba memiliki topeng yang paling indah, bagus dan mahal. Macam-macam warnanya. Merah, biru, kuning, hitam bahkan kuning emas. Semakin indah dan bagus topengnya, maka semakin eksis keberadaannya. Tapi itu hanya topeng.
Dari sekian juta penduduk bertopeng, tidak sampai 50% dari mereka yang memakai topeng sesuai dengan kepribadiannya. Lebih banyak penduduk yang menutupi jati diri aslinya dengan bertopeng. Mereka melepas topeng saat berhadapan dengan Tuhan. Tapi kebanyakan dari mereka jarang menghadap Tuhan. Jarang bermuhasabah diri karena terlena dengan sebuah topeng.
Sumber: Nyai Google

Masing-masing topeng punya kelas-kelasnya tersendiri.
Di kalangan artis, topeng berwarna merah peringkat paling atas.
Di kalangan pejabat, topeng berwarna hijau posisi pertama.
Di kalangan pembisnis, topeng warna biru paling glamor.
Di kalangan ustadz-ustadz, topeng berwarna kuning emas paling dielukan. 
Sehingga, banyak penduduk yang ingin hijrah dengan langsung mengaplikasikan topeng berwarna kuning emas. Pun pakaiannya seperti topeng kuning emas. Mirip.

Tapi jangan sedih, masih ada penduduk bertopeng tanpa warna, warnanya susah dijelaskan. Karena warnanya terpancar dari kepribadiannya sendiri. Mereka tak bersembunyi dengan topeng. Mereka hidup dengan nyaman dan tidak saling menjatuhkan. Mereka tak memperebutkan berbagai topeng berwarna, karena pancaran jati diri mereka yang sebenarnya sudah cukup menjadi warna topeng dalam berpakaian, berbicara dan bertingkah laku.
Bahkan Bang Ariel NOAH pun pernah berkata ....
“tapi buka dulu to.....pengmu, buka dulu toe..pengmu”
“biar kulihat warnamu, kan kulihat warnamu”

Kesimpulannya dipikirkan sendiri ya hehehe


Ciputat, 23 Agustus 2017

Unknown

About Unknown -

Ummi Hasanah yang kerap disapa Ala. Mahasiswi Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini sibuk skripsi, mengajar dan mencari ilmu di Pusat Studi Pesantren Jakarta. Asli Lampung, darah Sunda Jawa.

Subscribe to this Blog via Email :