![]() |
| Sumber: Nyai Google |
Izin meminjam perkataan Sujiwo Tejo
dalam buku asyiknya yaitu Tuhan Maha Asyik, bahwa dunia ini adalah panggung
sandiwara, manusia adalah lakon dan Tuhan adalah dalangnya. Ini hanya sebuah
analogi, bukan berarti menyama-nyamakan Tuhan yang Maha segalanya dengan
seorang dalang yang banyak dosa karena ia hanya manusia. Karena dalam setiap
gerak manusia, pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Seperti campur tangan
seorang dalang dalam berdongeng dengan wayang-wayangnya.
***
Hanya ada dua jenis kelamin bagi
manusia, ya laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki yang menyerupai perempuan?
Itu udah beda urusan.
Secara kodrati , baik laki-laki dan
perempuan mempunyai spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, seperti alat
reproduksi dan sebagainya. Kalau mengubah sesuatu yang sudah ditetapkan Tuhan?
Itu udah beda urusan.
Jadi, baik perempuan dan laki-laki,
mereka menjalani lakon di dunia ini.
***
Lalu, adakah kepura-puraan yang
mereka tampilkan??
Namanya juga lakon yang tugasnya
melakoni, ya pasti ada pura-puranya. Seperti dalam sebuah film, segala properti
yang digunakan biasanya menunjukkan karakteristik seorang aktor. Tapi ingat,
aktor hanya pemain. Siapa yg tahu sifat dia sebenarnya kalau bukan dia sendiri
dan Tuhan. Sama seperti kita.
Siapa yang tahu sifat sejati kita
kalau bukan diri kita sendiri dan Tuhan. Banyak properti yang kita gunakan
untuk menutupi jati diri kita sendiri. Sehingga jangan heran, seseorang dengan
label pakaian atau jabatan yang menurut kita tinggi dan baik, bisa juga
melakukan kesalahan yang begitu fatal. Sebaliknya, mereka yang memiliki label pakaian
dan jabatan level rendah, bisa melakukan perbuatan terpuji dan bermanfaat.
***
Kalau boleh diibaratkan, dunia ini
seperti negeri bertopeng. Manusia berlomba-lomba memiliki topeng yang paling
indah, bagus dan mahal. Macam-macam warnanya. Merah, biru, kuning, hitam bahkan
kuning emas. Semakin indah dan bagus topengnya, maka semakin eksis keberadaannya.
Tapi itu hanya topeng.
Dari sekian juta penduduk bertopeng,
tidak sampai 50% dari mereka yang memakai topeng sesuai dengan kepribadiannya.
Lebih banyak penduduk yang menutupi jati diri aslinya dengan bertopeng. Mereka
melepas topeng saat berhadapan dengan Tuhan. Tapi kebanyakan dari mereka jarang
menghadap Tuhan. Jarang bermuhasabah diri karena terlena dengan sebuah topeng.
![]() |
| Sumber: Nyai Google |
Masing-masing topeng punya
kelas-kelasnya tersendiri.
Di kalangan artis, topeng berwarna
merah peringkat paling atas.
Di kalangan pejabat, topeng berwarna
hijau posisi pertama.
Di kalangan pembisnis, topeng warna
biru paling glamor.
Di kalangan ustadz-ustadz, topeng
berwarna kuning emas paling dielukan.
Sehingga, banyak penduduk yang ingin
hijrah dengan langsung mengaplikasikan topeng berwarna kuning emas. Pun
pakaiannya seperti topeng kuning emas. Mirip.
Tapi jangan sedih, masih ada penduduk
bertopeng tanpa warna, warnanya susah dijelaskan. Karena warnanya terpancar
dari kepribadiannya sendiri. Mereka tak bersembunyi dengan topeng. Mereka hidup
dengan nyaman dan tidak saling menjatuhkan. Mereka tak memperebutkan berbagai topeng
berwarna, karena pancaran jati diri mereka yang sebenarnya sudah cukup menjadi
warna topeng dalam berpakaian, berbicara dan bertingkah laku.
Bahkan Bang Ariel NOAH pun pernah
berkata ....
“tapi buka dulu to.....pengmu, buka
dulu toe..pengmu”
“biar kulihat warnamu, kan kulihat
warnamu”
Kesimpulannya dipikirkan sendiri ya
hehehe
Ciputat, 23 Agustus 2017

