Blogroll

My Instagram

Minggu, 29 Mei 2016

Unknown

Finally, I Get You



Kantin sekolah kini telah ramai dengan para siswa. Lamunanku tersentak oleh puluhan hentakan kaki-kaki berhamburan karena kelaparan. Jarum jam di tanganku telah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Tepat satu jam aku menunggunya di sini. Sudah dua gelas es teh yang ku pesan, tetap  saja tenggorokanku  meronta meminta asupan lebih hinga akhirnya kupesan tiga sampai empat gelas es teh. 
Beruntung pelembab wajah yang kugunakan merupakan produk perawatan kulit kombinasi make up yang biasa di sebut BB (beauty balm) cream dengan SPF 37 tak bikin bedak di wajahku hilang begitu saja dalam beberapa jam. Bibirku masih merah, bulu mata masih konsisten dengan lentiknya, dan blash on di pipiku masih merona merah muda. Oh, yang sedikit berubah adalah bentuk jilbabku, hampir tak karuan. Kurapikan sedikit dengan menarik tiap ujung jilbab ke arah kanan dan kiri, dengan mantapnya ku pasang bros berbentuk bunga berbahan kain satin dipinggiran kanannya. Oke, cantiklah sekarang.
Tapi tunggu, aku berusaha cantik? Wait wait. Its wrong Zora! Ku lepas bros bunga itu dan kubiarkan ujung depan jilbabku meluncur ke bawah.Polos. Tanpa hiasan. Ku ambil tissu untuk mengusap pipi yang terlalu merona. Apa-apaan ini! bisik benakku. Oh Tuhan, aku hampir gila karena menunggunya. Buat apa tampil cantik di depan suami orang. Aku tiba-tiba menyesal telah menjawab teleponnya tadi malam.
 Me     : Halo, Assalamualaikum
 He     : Waalaikumussalam.Hai Zora, aku Sultan. Dua belas IPA 1, mata   kodok.
 Me     : emmm, hai Dok! Oh maksudku hai Sultan. Apa kabar?
 He     : Baik, maaf mengganggu waktu istirahat kamu. Nomor kamu aku   curi dari    Facebook, no problem right?, Lets meet at our lovelyschool tomorrow, tempat biasa.
  Me    : Kantin? Oke.
  He    : 10 teng ya!

Adalah Sultan, pria yang membuatku gila dan lebih tepatnya pria yang menjadi cinta pertamaku. Kami bertemu sepuluh tahun yang lalu, saat usia kami 18 tahun. Saat duduk di kelas dua belas, dia menyatakan cintanya kepadaku. I Love You, tiga kata yang ia ungkapkan kepadaku di hadapan ibu kantin dan puluhan teman-teman yang sedang makan beraneka macam jajanan di kantin sekolah. Ada yang tak perduli, ada yang terkejut menghentikan kunyahan makanannya, ada juga yang tepuk tangan bahkan pingsan. Aku kaget, kesal tapi senang. Momentum penembakan yang luar biasa dan tak mampu untuk menolaknya. Hingga akhirnya kami berpacaran. 
Meski wajahnya tak setampan artis idolaku Dude Herlino, tetapi senyumannya semanis Josh Hutcherson, aktor dalam film The Hunger Games. Gigi gingsul bagian kanan menambah ketampanannya. Kacamata besar tak pernah lepas dari matanya, sehingga ia dijuluki si mata kodok oleh teman-teman sekelas. Dia yang membuatku merasa dicintai untuk kali pertama. Bagaimana tidak, setiap hari ia menyediakan bekal sarapan, mengantar dan menjemputku ke tempat bimbingan belajar meski hujan-hujanan, menjadi alarm untuk mengingatkanku bangun tidur, sholat sampai mandi. I love him, a lot!
Namun, tepat saat pengumuman kelulusan tiba, ia mengakhiri hubungan kami.
Aku mau fokus belajar supaya bisa masuk perguruan tinggi. Aku harap kamu ngerti. Hopefully.
Alasan klasik!
Itukah alasan yang sebenarnya? Aku tak percaya. Sultan telah berjanji untuk menjagaku selamanya, berada di sampingku dan menemaniku saat senang dan sedih, menghadirkan cinta tiap harinya. Lalu dengan upaya agar bisa masuk perguruan tinggi, sebegitu mudahnya kah ia memutuskanku?
Hingga hari menghampiri bulan dan bulan beranjak tahun, berita tentangnya tak pernah  ku dengar. Aku masih ingat dengan ratusan tissu yang kubuang karena menangisi kepergiannya. Argh! Mungkin aku gila, gila karena cinta. Hingga menurutku, siap mencintai berarti siap menderita.
***
“Mbak! Itu mas Sultannya sudah datang, lagi jalan mau ke sini”, suara Ibu Tina salah satu pemilik warung bakso kesukaanku dan Sultan saat SMA membuyarkan lamunanku.
“Oh iya bu, makasih”, jawabku.
Kayaknya mas Sultan dateng sama cewek mbak”, ucap Ibu tina yang kali ini terdengar lebih semangat.
Kepalaku mendongah ke atas menatap arah parkiran mobil karena penasaran. Kudapati Sultan dengan balutan kemeja kotak-kotak biru muda dan jeans hitam serta topi bergaris army di pinggiran depan. Dia masih terlihat tampan dan maskulin. Dan Oh, benar saja. Ada seorang wanita berada di sampingnya.


Sepertinya itu istrinya bu”, ucapku. Tentu saja dengan yakin kukatakan demikian kepada Ibu Tina. Walau sebelumnya belum pernah bertemu dengan istri Sultan. Tadi malam  setelah berbicara lewat telepon, aku sempat mengirimkan beberapa pesan singkat kepadanya. Menanyakan beberapa pertanyaan, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan dan pastinya keluarga. Sultan mengatakan dirinya akan datang bersama seorang perempuan, itu artinya Sultan telah menikah. 
Entah, saat membaca pesannya secepat kilat ingatan masa SMA itu muncul. Tak tertahan, akupun menangis. Tissu yang sudah lama pergi dari pipi, datang kembali menghampiri.  Kenangan manis bersamanya  sampai saat ini tak pernah bisa kulupakan. Berapa banyak pria yang ku kambinghitamkan untuk dapat melupakannya, hasilnya tetap nihil. He’s always in my heart. My first love.
Sultan semakin mendekat. Kualihkan tatapanku pada layar LCD smartphone meski tak ada pemberitahuan pesan, bbm, facebook bahkan instagram.
“Zora”, Sultan memanggilku dengan lembut. Ia datang sendiri tanpa ditemani wanita yang kulihat tadi.
“Hai Sultan”, ucapku singkat.
“Maaf menunggu lama, karena aku harus menjemput seseorang dulu”, ucapnya.
“Oh, gak apa-apa kok”, jawabku. Seseorang itu mungkin istri tercintanya. “ Katanya kamu datang bersama seseorang, mana?”, ucap ku penasaran.
“Seseorang?Oh Aku datang bersama Clan....”
Itu nama istrinya
“Dia masih di parkiran...”
Mungkin istrinya masih malu-malu
“Gadis kecil yang cantik...”
Begitu romantis panggilan Sultan padanya
“Setelah kujemput dari TK, dia meronta-ronta untuk dibelikan balon...”
TK? Balon?Oh Wait!
“Nah Clan sudah datang”, ucap Sultan sembari menyambut Clan dalam gendongannya. Clan memberikan senyuman manis kepadaku, lucu dan menggemaskan. Disusul oleh kedatangan wanita yang kulihat tadi, wanita itu memberikan botol susu dan boneka kepada Clan lalu bermain di luar kantin. Tanpa berpikir terlalu lama, aku yakin dia adalah babysitter Clan. Oh God, thinking big Zo! Aku telah salah paham.
 “Zo.. ada yang mau aku bicarain”, ucap Sultan membuka pembicaraan baru.
 “Iya Tan, aku siap dengar apa yang mau kamu sampaikan”, jawabku manis.
Tiba-tiba keheningan datang menghampiri. Kami terdiam dalam beberapa menit. Aku menunggu Sultan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, tetapi ia hanya terdiam. Aku sembari minum es teh agar tak terlihat kaku. Sesekali Sultan mengusap keringat yang mengalir di pelipis kirinya. Tampak begitu gugup. Dan akhirnya
“Zora, Will you marry me?”, ucap Sultan sambil menyerahkan cincin emas putih lengkap dengan kotak kecil dengan pita putih di atasnya di hadapanku.

Sontak tenggorokanku tersedak saat menyeruput es teh, kedua mataku membelangak menatap tajam kedua mata Sultan. Darah seakan berhenti mengalir dan jantung bagai tak berdetak lagi. Aku kaget. Unbelieve it
“Aku minta maaf Zo sudah meninggalkan kamu. Aku memutuskan hubungan kita karena perjodohan orang tuaku dengan keluarga Anggi. Aku galau, bingung, sedih dan tak karuan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kamu, I’m sorry Zo. Dan Anggi telah wafat lima tahun yang lalu akibat kanker. Dan jujur, selama berumah tangga, aku diliputi rasa bersalah kepadamu dan Anggi, rasa bersalah karena aku masih mencintaimu”
Tak terbendung lagi, air mata menetes deras dari kedua mataku. Bagai tercabik, kini luka lamaku kembali datang. Namun, luka yang saat ini dapat terobati dengan kehadiran Sultan. Aku tak mau melepaskannya. Aku tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Aku masih mencintainya, sungguh. Ternyata aku salah, siap mencinta berarti siap bahagia.
“Yes, I do Sultan cause I love you”, ucapku lirih.
Sultan mengecup keningku dalam keheningan dan mengusap air mataku dengan tangannya yang lembut. Kebahagiaan hari ini tak akan pernah kulupakan.  I get my first love. Thanks Allah.

Cerpen lamaku yang baru sempat terpublish. Pure fiktif belaka :D








Unknown

About Unknown -

Ummi Hasanah yang kerap disapa Ala. Mahasiswi Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini sibuk skripsi, mengajar dan mencari ilmu di Pusat Studi Pesantren Jakarta. Asli Lampung, darah Sunda Jawa.

Subscribe to this Blog via Email :