Kantin sekolah
kini telah ramai dengan para siswa. Lamunanku
tersentak oleh puluhan hentakan kaki-kaki berhamburan
karena kelaparan. Jarum jam di tanganku telah menunjukkan pukul 10.15 WIB.
Tepat satu jam aku menunggunya di sini. Sudah dua gelas es teh yang ku pesan,
tetap saja tenggorokanku meronta meminta asupan lebih hinga akhirnya
kupesan tiga sampai empat gelas es teh.
Beruntung
pelembab wajah yang kugunakan merupakan produk perawatan kulit kombinasi make
up yang biasa di sebut BB (beauty balm) cream dengan SPF 37 tak bikin bedak di
wajahku hilang begitu saja dalam beberapa jam. Bibirku masih merah, bulu mata
masih konsisten dengan lentiknya, dan blash on di pipiku masih merona merah
muda. Oh, yang sedikit berubah adalah bentuk jilbabku, hampir tak karuan.
Kurapikan sedikit dengan menarik tiap ujung jilbab ke arah kanan dan kiri,
dengan mantapnya ku pasang bros berbentuk bunga berbahan kain satin dipinggiran
kanannya. Oke, cantiklah sekarang.
Tapi tunggu,
aku berusaha cantik? Wait wait. Its wrong Zora! Ku lepas bros bunga itu dan
kubiarkan ujung depan jilbabku meluncur ke bawah.Polos. Tanpa hiasan. Ku ambil
tissu untuk mengusap pipi yang terlalu merona. Apa-apaan ini! bisik benakku. Oh
Tuhan, aku hampir gila karena menunggunya. Buat apa tampil cantik di depan suami orang. Aku tiba-tiba menyesal telah menjawab teleponnya tadi malam.
Me : Halo,
Assalamualaikum
He :
Waalaikumussalam.Hai Zora, aku Sultan. Dua belas IPA 1, mata kodok.
Me : emmm, hai Dok! Oh maksudku hai Sultan. Apa
kabar?
He : Baik, maaf mengganggu waktu istirahat kamu.
Nomor kamu aku curi
dari Facebook, no problem right?, Lets
meet at our lovelyschool tomorrow, tempat biasa.
Me : Kantin? Oke.
He : 10 teng ya!
Adalah Sultan,
pria yang membuatku gila dan lebih tepatnya pria yang menjadi cinta pertamaku.
Kami bertemu sepuluh tahun yang lalu, saat usia kami 18 tahun. Saat duduk di kelas dua belas, dia menyatakan cintanya kepadaku. I Love You, tiga kata
yang ia ungkapkan kepadaku di hadapan ibu kantin dan puluhan teman-teman yang
sedang makan beraneka macam jajanan di kantin sekolah. Ada yang tak perduli, ada yang
terkejut menghentikan kunyahan makanannya, ada juga yang
tepuk tangan bahkan pingsan. Aku kaget,
kesal tapi senang. Momentum penembakan yang luar biasa dan tak mampu untuk
menolaknya. Hingga akhirnya kami berpacaran.
Meski wajahnya
tak setampan artis idolaku Dude Herlino, tetapi senyumannya semanis Josh
Hutcherson, aktor dalam film The Hunger Games. Gigi gingsul bagian kanan
menambah ketampanannya. Kacamata besar tak pernah lepas dari matanya, sehingga
ia dijuluki si mata kodok oleh teman-teman sekelas. Dia yang membuatku merasa
dicintai untuk kali pertama. Bagaimana tidak, setiap hari ia menyediakan bekal
sarapan, mengantar dan menjemputku ke tempat bimbingan belajar meski
hujan-hujanan, menjadi alarm untuk mengingatkanku bangun tidur, sholat sampai
mandi. I love him, a lot!
Namun, tepat
saat pengumuman kelulusan tiba, ia mengakhiri
hubungan kami.
Aku mau fokus
belajar supaya bisa masuk perguruan tinggi. Aku harap kamu ngerti. Hopefully.
Alasan klasik!
Itukah alasan
yang sebenarnya? Aku tak percaya. Sultan telah berjanji untuk menjagaku
selamanya, berada di sampingku dan menemaniku saat senang dan sedih,
menghadirkan cinta tiap harinya. Lalu dengan upaya agar bisa masuk perguruan
tinggi, sebegitu mudahnya kah ia memutuskanku?
Hingga hari menghampiri bulan dan bulan beranjak
tahun, berita tentangnya tak pernah ku dengar. Aku masih ingat dengan ratusan
tissu yang kubuang karena menangisi kepergiannya. Argh! Mungkin aku gila, gila
karena cinta. Hingga menurutku, siap mencintai berarti siap menderita.
***
“Mbak! Itu mas
Sultannya sudah datang, lagi jalan mau ke sini”, suara Ibu
Tina salah satu pemilik warung bakso kesukaanku dan Sultan saat SMA membuyarkan lamunanku.
“Oh iya bu,
makasih”, jawabku.
“Kayaknya
mas Sultan dateng sama cewek mbak”, ucap Ibu tina yang kali ini terdengar lebih
semangat.
Kepalaku
mendongah ke atas menatap arah parkiran mobil karena penasaran. Kudapati Sultan
dengan balutan kemeja kotak-kotak biru muda dan jeans hitam serta topi bergaris
army di pinggiran depan. Dia masih terlihat tampan dan maskulin. Dan Oh, benar saja. Ada seorang wanita berada di sampingnya.
“Sepertinya itu istrinya bu”, ucapku. Tentu saja dengan yakin kukatakan demikian kepada Ibu Tina. Walau sebelumnya belum pernah bertemu dengan istri
Sultan. Tadi
malam setelah berbicara lewat telepon,
aku sempat mengirimkan beberapa pesan singkat kepadanya. Menanyakan beberapa
pertanyaan, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan dan pastinya keluarga. Sultan mengatakan dirinya akan datang
bersama seorang perempuan, itu artinya
Sultan telah menikah.
Entah, saat membaca
pesannya secepat kilat ingatan masa SMA itu muncul. Tak tertahan, akupun
menangis. Tissu yang
sudah lama pergi dari pipi, datang kembali menghampiri. Kenangan manis bersamanya sampai saat ini tak pernah bisa kulupakan.
Berapa banyak pria yang ku kambinghitamkan untuk dapat melupakannya, hasilnya
tetap nihil. He’s always in my heart. My first love.
Sultan semakin
mendekat. Kualihkan tatapanku pada layar LCD smartphone meski tak ada
pemberitahuan pesan, bbm, facebook bahkan instagram.
“Zora”, Sultan
memanggilku dengan lembut. Ia datang sendiri tanpa ditemani wanita yang kulihat
tadi.
“Hai Sultan”,
ucapku singkat.
“Maaf menunggu
lama, karena aku harus menjemput seseorang dulu”, ucapnya.
“Oh, gak
apa-apa kok”, jawabku. Seseorang itu mungkin istri tercintanya. “
Katanya kamu datang bersama seseorang, mana?”, ucap ku penasaran.
“Seseorang?Oh
Aku datang bersama Clan....”
Itu nama
istrinya
“Dia masih di
parkiran...”
Mungkin
istrinya masih malu-malu
“Gadis kecil
yang cantik...”
Begitu romantis
panggilan Sultan padanya
“Setelah
kujemput dari TK, dia meronta-ronta untuk dibelikan balon...”
TK? Balon?Oh
Wait!
“Nah Clan sudah
datang”, ucap Sultan
sembari menyambut Clan dalam gendongannya. Clan
memberikan senyuman manis kepadaku, lucu dan menggemaskan. Disusul oleh kedatangan wanita yang
kulihat tadi, wanita itu memberikan botol susu dan boneka kepada Clan lalu
bermain di luar kantin. Tanpa berpikir terlalu lama, aku yakin dia adalah
babysitter Clan. Oh God, thinking big Zo! Aku telah salah paham.
“Zo.. ada yang mau aku
bicarain”, ucap Sultan membuka pembicaraan baru.
“Iya Tan, aku siap dengar apa
yang mau kamu sampaikan”, jawabku manis.
Tiba-tiba keheningan
datang menghampiri. Kami terdiam dalam beberapa menit. Aku
menunggu Sultan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, tetapi ia hanya
terdiam. Aku sembari
minum es teh agar tak terlihat kaku. Sesekali Sultan mengusap keringat yang mengalir di pelipis
kirinya. Tampak begitu gugup. Dan akhirnya
“Zora, Will
you marry me?”, ucap Sultan sambil menyerahkan cincin emas putih lengkap dengan
kotak kecil dengan pita putih di atasnya di hadapanku.
Sontak
tenggorokanku tersedak saat menyeruput es teh, kedua mataku membelangak menatap
tajam kedua mata Sultan. Darah seakan berhenti mengalir dan jantung bagai tak
berdetak lagi. Aku kaget. Unbelieve it
“Aku minta
maaf Zo sudah meninggalkan kamu. Aku memutuskan hubungan kita karena perjodohan
orang tuaku dengan keluarga Anggi. Aku galau, bingung, sedih dan tak karuan.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kamu, I’m sorry Zo. Dan Anggi
telah wafat lima tahun yang lalu akibat kanker. Dan jujur, selama berumah
tangga, aku diliputi rasa bersalah kepadamu dan Anggi, rasa bersalah karena aku
masih mencintaimu”
Tak
terbendung lagi, air mata menetes deras dari kedua mataku. Bagai tercabik, kini
luka lamaku kembali datang. Namun, luka yang saat ini dapat terobati dengan
kehadiran Sultan. Aku tak mau melepaskannya. Aku tak mau kehilangan untuk kedua
kalinya. Aku masih mencintainya, sungguh. Ternyata aku salah, siap mencinta
berarti siap bahagia.
“Yes, I do
Sultan cause I love you”, ucapku lirih.
Sultan
mengecup keningku dalam keheningan dan mengusap air mataku dengan tangannya
yang lembut. Kebahagiaan hari ini tak akan pernah kulupakan. I get my first love. Thanks Allah.
Cerpen lamaku yang baru sempat terpublish. Pure fiktif belaka :D

