Malang, 29 Agustus 2016
Pukul 13.22
Sebenarnya enggan menyebutnya
dengan galau, tapi hanya itu istilah keren yang mudah dimengerti orang modern
zaman sekarang.
Kegalauan itu anugerah, syukuri
saja. Tak selamanya keindahan bersemayam dalam hirupan nafas kehidupan. Tak
hidup kalau tak ada lika liku. Jadi, mari berbahagia dengan segala keresahan.
Apa yang diresahkan?
Aku anak remaja , yaa... menjelang
dewasa sebenarnya. Menginjak usia 22 tahun ini, masalah tak jauh beda dengan
remaja lain. Akan kuruncingkan keresahan ini pada satu permasalahan, yaitu
cinta. Bukan karena apa-apa, aku hanya suka membicarakan tentang cinta. Cinta
itu unik bin ajaib. Bisa merubah pahit menjadi manis, merubah duka menjadi
suka, mengubah budak berasa tuan, namun bisa juga sebaliknya.
Oke, aku sedang galau.
Beberapa hari lalu adalah salah
satu hari kelam yang pernah terjadi dalam urusan percintaanku. Aku memutuskan
hubungan dengannya yang telah berjalan cukup lama. Ya, cukup berani untuk
mengakhiri hubungan itu, namun lagi-lagi ini soal hati. Kadang kita mesti
bertanya kenapa hati seringkali tak konsis. Dan kita teringat “Ya muqollibal
quluub”, Allah.
Aku tak perlu menjajari satu
persatu kronologi “pemutusan” itu, kan.
Butuh kesabaran dalam menghadapi
keresahan yang ini. Sabar saat terdiam, karena ketika diam, entah semilir angin
kenangan dari mana tiba-tiba datang dan merayap dalam pikiran, mengajak
bernostalgia dengan deretan-deretan perhatian yang pernah tertuang dalam
hubungan percintaan dahulu. Intinya, jangan diam apalagi terlalu banyak diam.
Bersyukur, sederetan kegiatan dapat
kulakukan, sehingga tenagaku tidak dibuang percuma. Angin masa lalu hanya
lewat, tak sampai hinggap.
Salah satu doa terkenal yang kupegang
adalah
“Jika ia baik untukku, maka
dekatkanlah. Pabila ia tak baik untukku, maka jauhkanlah”
Ya... setidaknya hajatku untuk
menulis sudah tertuang malam ini. Aku hanya yakin, Tuhan punya rencana indah
untuk hidupku kelak. Terimakasih kegalauan
